1.
Pengertian
Hegemoni
Hegemoni (bahasa Yunani:
ἡγεμονία hēgemonía Antonio Gramsci : merujuk pada dominasi suatu kelas sosial
terhadap kelas sosial lain dalam masyarakat
melalui hegemoni budaya.
Hegemoni adalah
proses dominasi, dimana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya.
Hegemoni tercipta karena kemajuan media serta pengalaman populer kita terkait
dengan konsumsi.
Hegemoni terjadi ketika masyarakat yang
dikuasai oleh kelas yang dominan bersepakat dengan ideologi, gaya hidup dan cara
berpikir dari kelas dominan sehingga kaum tertindas tidak merasa ditindas oleh
kelas yang berkuasa. Berdasarkan pemikiran Gramsci
tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni
merupakan suatu kekuasaan atau dominasi
atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat
yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya
dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok
yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa
itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.
Berdasarkan pemikiran
Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau
dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok
masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat
lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya.
Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas
dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi. Pada saat ini hegemoni
kapitalisme telah begitu mencengkram. Kecenderungan pesan mengalir dari arus
budaya utama (mainstream) yakni budaya yang dibangun dari wilayah pusat
(centrum) yang bertempat di belahan bumi utara, yaitu budaya barat (Amerika dan
Eropa) ke masyarakat yang lemah dalam pengusaan tekologi, informasi, sumber
daya manusia, dan sumber keuangan, yaitu bumi selatan (seperti Asia, Afrika,Amerika
Latin) yang disebut sebagai wilayah pinggiran (pheriperique) sering dianggap sebagai
proses dominasi budaya (cultural domination). Kekuatan dominasi budaya yang disebarkan
melalui media massa dan pengaruh kuat promosi media massa, mampu menciptakan
kondisi masyarakat yang seragam (cultural homogenization). Budaya utama
tersebut dihembuskan oleh kekuatan modal dan teknologi, kemampuan sumber daya
manusia dan jaringan telakomunikasi sukarela sebagai sebuah kebutuhan.
2.
Konsep Hegemoni Budaya
Istilah hegemoni
berasal dari istilah yunani, hegeisthai (“to lead?). Konsep hegemoni
banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha
untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki
arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah).
Hegemoni budaya bisa didefinisikan sebagai:
dominasi oleh satu budaya
terhadap budaya lainnya,
dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh budaya dominan terhadap budaya yang didominasi diterima
sebagai sesuatu yang wajar (common sense). Lihat juga definisi dibawah
ini:
"Cultural
hegemony is the dominance of one culture
over
other culture, with or without the
threat of force, to the extent that, for instance, the dominant party
can dictate the terms of trade to its advantage; more broadly, cultural
perspectives become skewed to favor the dominant culture. Hegemony controls the ways that
ideas become “naturalized” in a process that informs notions of common sense
(http://en.wikipedia.org/wiki/Hegemony)
Tak dapat
dipungkiri kebudayaan dan bidang lain saling berkaitan. Michel Foucault
membedah fenomena ini dengan teorinya mengenai knowledge/power.
Dalam teorinya dijelaskan bahwa kekuasaan selalu muncul karena ada pengetahuan,
begitu pula sebaliknya. Maka ketidaktahuan dalam kebudayaan pada akhirnya
membuat ketidaktahuan dalam bidang lain, perekonomian, dll. (Foucault, 2002).
Mengutip
pemikiran Gramsci bahwa hegemoni satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya
dalam pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni itu harus
diraih melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan
pandangan dunia bersama bagi seluruh masyarakat.
Hegemoni budaya
ini berhasil membuat kita berupaya mencapai konsensus sesuai ideologi yang
dihegemonikan kepada kita. Konsensus tersebut berupa kehidupan yang kita jalani
harus berkembang sesuai dengan kultural budaya yang mendominasi pikiran kita.
3.
Hegemoni
Budaya dan Perkembangan
Hegemoni terjadi ketika
masyarakat yang dikuasai oleh kelas yang dominan bersepakat dengan ideologi, gaya hidup dan cara
berpikir dari kelas dominan. Sehingga kaum tertindas tidak merasa ditindas oleh
kelas yang berkuasa.
Berdasarkan
pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni budaya merupakan
suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, kebudayaan norma,
maupun sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap
kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara
sadar mengikutinya. Kelompok yang disominasi oleh kelompok lain (penguasa)
tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.
Hegemoni Budaya “POP”
Fenomena McWorld!!!. Sebuah jargon
yang sangat akrab di telinga generasi yang lahir pada dekade 70-an dan
80-an. McWorld merupakan gabungan
dari tiga ikon besar yang menggenggam dunia yaitu MTV untuk musik, McDonald
untuk perut, dan Macintosh sebagai
pusat informasi. Fenomena McWorld
merupakan salah satu fakta bahwa dunia mengalami globalisasi.
Menurut Wijendaru, globalisasi yang
terjadi sejak akhir abad ke-20 mengharuskan masyarakat dunia bersiap-siap
menerima masuknya pengaruh budaya barat terhadap seluruh aspek kehidupan. Aspek
kebudayaan menjadi isu penting globalisasi karena budaya pop (film, musik,
pakaian dan sebagainya) mengusung nilai-nilai dan ideologi barat seperti pleasure, hiburan, gaya hidup modern
(Muharrominingsih,2006:49)
Pernahkah anda berpikir, mengapa hampir seluruh
mahasiswa di kampus Anda menggunakan celana Jeans, atau mengapa teman-teman
Anda lebih senang menghabiskan waktu di Starbucks atau J’Co Donnut yang
harganya lebih mahal enam sampai delapan kali lipat dari harga di warung
pinggiran. Atau tidak timbulkah rasa heran di benak Anda mengapa sebagian besar
penduduk dunia sangat menyukai ritual menonton sepak bola yang membutuhkan
waktu ekstra dini hari yang akan mengurangi jatah tidur penikmat sepak bola.
Tentunya aneh jika Anda berpikir bahwa hal itu dipicu atas kesepakatan bersama.
Hal inilah yang dinamakan budaya populer atau lebih dikenal sebagai budaya pop
saja yaitu budaya yang banyak diminati
oleh masyarakat tanpa ada batasan geografis.
Budaya pop saat ini tidak hanya menjadi dominasi
budaya Barat, tetapi Asia juga mulai menunjukkan taringnya dengan menjadi
pengekspor budaya pop. Selain Jepang, Korea pun mulai menunjukkan tajinya
sebagai negara pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburannya dan menjadi
saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. Hal ini sejalan dengan
kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka.
Contoh nyata hegemoni budaya pop Korea adalah
bergesernya penilaian selera mengenai pria idaman. Sebelum masuknya budaya pop
Korea di Indonesia, masyarakat kita mengacu pada aktor Hollywood yang macho.
Namun, setelah masyarakat mulai menggandrungi tayangan Korea baik itu film,
sinetron, maupun musik, mereka cenderung beralih menyukai pria dengan gaya
cute, imut, putih dan tinggi ala aktor Korea. Belum lagi pakaian ataupun produk
– produk yang digunakan artis Korea. Para artis Korea kini menjadi ikon dan
seolah semua yang digunakan ataupun dilakukan mereka ditiru oleh penggemar
budaya pop Korea.
Globalisasi budaya pop ini berhasil mempengaruhi
kehidupan masyarakat di seluruh dunia.
Hegemoni budaya yang berkembang di Indonesia
sebenarnya sudah sangat meresahkan, terutama mengenai pola hidup remaja
Indonesia saat ini, dimana ketika hegemoni budaya barat diberi label modern,
maka di sanalah jutaan anak muda negeri mengikut. Terdapat istilah generasi
MTV, generasi yang berpikir, berperilaku, dan berbusana meniru system budaya
yang dipraktikan budaya barat. Bila remaja saat ini tidak menonton MTV maka
kita akan dianggap norak, kampungan, dan tidak modern. Satu pemaknaan yang
salah kaprah.
“Tren” pastinya
ada karena sebuah kebutuhan. Komunikasi
visual pun tercipta sebagai ujung tombak kapitalis untuk menciptakan rasa “aku
harus beli”. Bagi Millen Kundera ini di sebut Imalogy, sebuah pencitraan;
cantik itu harus berkulit putih (pucat) seperti perempuan barat umumnya, rambut
bagus harus brunette, dan mata yang menggoda haruslah berwarna biru atau hijau.
Remaja Indonesia pun berlomba untuk mencitrakan dirinya sendiri dengan mengkopi
perempuan-perempuan barat. Selain itu, di bidang ekonomi juga terjadi hegemoni
di mana banyak bertebaran restoran-restoran ala barat seperti McDonald,
Kentucky Fried Chiken, Wendys, dan lain-lain. Masyarakat sekarang ini bila
tidak makan di McD atau minum Coca Cola maka kita akan menjadi orang yang
kampungan.
Contoh hegemoni di Indonesia yang dilatarbelakangi
media adalah penayangan Sinetron Si Doel anak Betawi. Dalam sinetron tersebut
menayangkan bahwa budaya, karakteristik, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
Betawi secara umum. Walaupun dalam seinetron tersebut terdapat karakter yang
berasal dari budaya lain (Jawa, china) tetapi peranannya kurang dan masih dalam
konsep Suku-suku atau budaya yang berasal dari Jawa. Secara tak langsung
sinetron ini mempengaruhi karakter penontonnya yang berasal dari budaya lain (non
betawi) untuk berperilaku (ucapan, karakter) seperti Si doel dan karakter lain.
Hal ini akan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat
sehari-hari dan menimbulkan factor-faktor negatif dalam masyarakat, terutama
munculnya disorientasi dan dislokasi. Disorientasi adalah proses kebingungan
masyarakat karena kehilangan orientasi dalam kehidupan yang makin kompleks.
Masyarakat kesulitan untuk mengambil keputusan atau menentukan pilihan dari
tawaran yang makin banyak dan beragam, dari barang, jenis pekerjaan sampai gaya
hidup. Sedangkan dislokasi adalah kondisi dimana setiap orang tidak tahu berada
pada posisi dimana karena kompleksnya mikrokultur yang lahir karena gaya hidup
global yang cepat menular. Dalam kondisi seperti itu, makin banyak warga
masyarakat global yang semakin terpinggirkan oleh gegap gempita kehidupan yang
kompetitif, teralienasinya individu dari masyarakatnya, terjadinya krisis
identitas di segala lapisan.
Dapat dilihat saat ini bahwa hegemoni budaya barat
telah akrab dengan masyarakat Indonesia dan dengan sadar telah
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, cara
berpikir, selera musik dan lainnya. Dari segi penggunaan bahasa juga, bahasa
Inggris merupkan salah satu bahasa internasional yang harus dikuasai oleh setiap
orang. Bahasa Inggris juga merupakan syarat utama dalam lowongan pekerjaan.
Secara tidak langsung Bahasa Inggris mendominasi serta memaksa kita untuk
mempelajari Bahasa inggris.
4.
Peranan
Media Massa Terhadap Hegemoni Budaya
Kekuatan dominasi
budaya yang disebarkan melalui media massa dan pengaruh kuat promosi media
massa, mampu menciptakan kondisi masyarakat yang seragam (cultural
homogenization). Budaya utama tersebut dihembuskan oleh kekuatan modal dan
teknologi, kemampuan sumber daya manusia dan jaringan telakomunikasi dan tanpa terasa telah diterima secara
sukarela sebagai sebuah kebutuhan.
Sebagai
institusi, media tak luput dari lima filtrasi seperti yang dikatakan oleh
Chomsky (1988). Lima filtrasi tersebut antara lain adalah: kepemilikan,
periklanan, narasumber media, flak, dan antikomunisme (Latiefah, 2010, hlm.
l4).
Media
massa dalam hal ini merupakan media yang sangat mendukung berkembangnya
hegemoni budaya. Kemampuan teknologi dan kemapanan
media jurnalistik dan komunikasi berperan dalam menyebarkan budaya-budaya
popular sehingga menjadi budaya global.
Media
massa khususnya televisi pada gilirannya akan diposisikan menjadi agen
kebudayaan dari kelas dominan yang ada dalam kehidupan. Realitas yang disajikan
medium televisi bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi realitas yang telah
melalui proses “seleksi”. Seleksi dilakukan oleh sekelompok orang – jurnalis- ,
pekerja di rumah produksi, produser, sutradara, hingga pemilik yang yang
memiliki sistem nilai dan ideologi tertentu. Hal inilah yang menyebabkan televisi
menjadi tidak bebas nilai. Dapat kita lihat sekarang ini dimana yang berkuasa
adalah industri maju, maka televisi akan menjadi agen sistem nilai, ideologi,
dan aparat hegemoni kesadaran.
5.
Menciptakan
Budaya tanding Terhadap Hegemoni Budaya
Dominasi
budaya yang dilakukan melalui media massa pada akhirnya mulai disadari sebagai
bentuk imperialisme budaya baru. Bentuk imperialisme modern ini tidak lagi
dilakukan dengan pesawat terbang, meriam, peluru dan pasukan, tetapi dilakukan
oleh media massa.
Ideologi yang disebarluaskan, tidak
dipaksakan oleh penguasa, tetapi merupakan pengaruh budaya yang disebarkan
secara sadar dan dapat meresap, serta berperan dalam mengintepretasikan
pengalaman. Proses ini berlangsung secara tersembunyi, tetapi berlangsung terus
menerus.
Melihat kecenderungan demikian, maka
hendaknya, dapat dialkukan diantaranya dengan reformasi di bidang media massa
seperti melakukan deregulasi terhadap undang-undang pers, sesuai dengan
kenyataan sosial
budaya Indonesia, terutama dalam memperkokoh semangat kebangsaan. Selain itu,
kebijakan Negara terhadap media massa bukan untuk mengendalikan arus informasi
dari rakyat untuk rakyat tetapi bagaimana memberikan porsi yang cukup terhadap
produk mental lokal.
Dalam kondisi seperti
ini pula, kajian komunikasi antarbudaya menawarkan kesadaran pentingnya
keterbukaan setiap bangsa untuk mengerti, memahami dan bersikap kritis guna
mengantisipasi efek budaya mainstream terhadap budaya sendiri. Sikap arif dan
bijaksana, yakni perlunya mengakrabi secara kritis akibat dampak yang ditimbulkannya dan bukan untuk menghindari secara mebabi
buda karena budaya asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar