Jumat, 04 Juli 2014

Hegemoni Budaya - Komunikasi Antar Budaya




1.                  Pengertian Hegemoni 

Hegemoni (bahasa Yunani: ἡγεμονία hēgemonía Antonio Gramsci : merujuk pada dominasi suatu kelas sosial terhadap kelas sosial lain dalam masyarakat melalui hegemoni budaya.
Hegemoni adalah proses dominasi, dimana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya. Hegemoni tercipta karena kemajuan media serta pengalaman populer kita terkait dengan konsumsi.
Hegemoni terjadi ketika masyarakat yang dikuasai oleh kelas yang dominan bersepakat dengan ideologi, gaya hidup dan cara berpikir dari kelas dominan sehingga kaum tertindas tidak merasa ditindas oleh kelas yang berkuasa. Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi. Pada saat ini hegemoni kapitalisme telah begitu mencengkram. Kecenderungan pesan mengalir dari arus budaya utama (mainstream) yakni budaya yang dibangun dari wilayah pusat (centrum) yang bertempat di belahan bumi utara, yaitu budaya barat (Amerika dan Eropa) ke masyarakat yang lemah dalam pengusaan tekologi, informasi, sumber daya manusia, dan sumber keuangan, yaitu bumi selatan (seperti Asia, Afrika,Amerika Latin) yang disebut sebagai wilayah pinggiran (pheriperique) sering dianggap sebagai proses dominasi budaya (cultural domination). Kekuatan dominasi budaya yang disebarkan melalui media massa dan pengaruh kuat promosi media massa, mampu menciptakan kondisi masyarakat yang seragam (cultural homogenization). Budaya utama tersebut dihembuskan oleh kekuatan modal dan teknologi, kemampuan sumber daya manusia dan jaringan telakomunikasi sukarela sebagai sebuah kebutuhan.

2.                  Konsep Hegemoni Budaya
Istilah hegemoni berasal dari istilah yunani, hegeisthai (“to lead?). Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah).

Hegemoni budaya bisa didefinisikan sebagai: dominasi oleh satu budaya terhadap budaya lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh budaya dominan terhadap budaya yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense). Lihat juga definisi dibawah ini:

"Cultural hegemony is the dominance of one culture over other culture, with or without the threat of force, to the extent that, for instance, the dominant party can dictate the terms of trade to its advantage; more broadly, cultural perspectives become skewed to favor the dominant culture. Hegemony controls the ways that ideas become “naturalized” in a process that informs notions of common sense (http://en.wikipedia.org/wiki/Hegemony)
*“…Dominant culture in society, including fundamentally but not exclusively the ruling class, maintain their dominance by securing the ‘spontaneous consent’ of subordinate culture, including the working class, through the negotiated construction of a political and ideological consensus which incorporates both dominant and dominated culture.” (Strinati, 1995: 165)"

Tak dapat dipungkiri kebudayaan dan bidang lain saling berkaitan. Michel Foucault membedah fenomena ini dengan teorinya mengenai knowledge/power. Dalam teorinya dijelaskan bahwa kekuasaan selalu muncul karena ada pengetahuan, begitu pula sebaliknya. Maka ketidaktahuan dalam kebudayaan pada akhirnya membuat ketidaktahuan dalam bidang lain, perekonomian, dll. (Foucault, 2002).

Mengutip pemikiran Gramsci bahwa hegemoni satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya dalam pengertian Gramscian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni itu harus diraih melalui upaya-upaya politis, kultural dan intelektual guna menciptakan pandangan dunia bersama bagi seluruh masyarakat.

Hegemoni budaya ini berhasil membuat kita berupaya mencapai konsensus sesuai ideologi yang dihegemonikan kepada kita. Konsensus tersebut berupa kehidupan yang kita jalani harus berkembang sesuai dengan kultural budaya yang mendominasi pikiran kita.


3.                  Hegemoni Budaya dan Perkembangan
           
Hegemoni terjadi ketika masyarakat yang dikuasai oleh kelas yang dominan bersepakat dengan ideologi, gaya hidup dan cara berpikir dari kelas dominan. Sehingga kaum tertindas tidak merasa ditindas oleh kelas yang berkuasa.
Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni budaya merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, kebudayaan norma, maupun sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang disominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi.

Hegemoni Budaya “POP”

Fenomena McWorld!!!. Sebuah jargon  yang sangat akrab di telinga generasi yang lahir pada dekade 70-an dan 80-an. McWorld merupakan gabungan dari tiga ikon besar yang menggenggam dunia yaitu MTV untuk musik, McDonald untuk perut, dan Macintosh sebagai pusat informasi. Fenomena McWorld merupakan salah satu fakta bahwa dunia mengalami globalisasi.
Menurut Wijendaru, globalisasi yang terjadi sejak akhir abad ke-20 mengharuskan masyarakat dunia bersiap-siap menerima masuknya pengaruh budaya barat terhadap seluruh aspek kehidupan. Aspek kebudayaan menjadi isu penting globalisasi karena budaya pop (film, musik, pakaian dan sebagainya) mengusung nilai-nilai dan ideologi barat seperti pleasure, hiburan, gaya hidup modern (Muharrominingsih,2006:49)

Pernahkah anda berpikir, mengapa hampir seluruh mahasiswa di kampus Anda menggunakan celana Jeans, atau mengapa teman-teman Anda lebih senang menghabiskan waktu di Starbucks atau J’Co Donnut yang harganya lebih mahal enam sampai delapan kali lipat dari harga di warung pinggiran. Atau tidak timbulkah rasa heran di benak Anda mengapa sebagian besar penduduk dunia sangat menyukai ritual menonton sepak bola yang membutuhkan waktu ekstra dini hari yang akan mengurangi jatah tidur penikmat sepak bola. Tentunya aneh jika Anda berpikir bahwa hal itu dipicu atas kesepakatan bersama. Hal inilah yang dinamakan budaya populer atau lebih dikenal sebagai budaya pop saja yaitu  budaya yang banyak diminati oleh masyarakat tanpa ada batasan geografis.
Budaya pop saat ini tidak hanya menjadi dominasi budaya Barat, tetapi Asia juga mulai menunjukkan taringnya dengan menjadi pengekspor budaya pop. Selain Jepang, Korea pun mulai menunjukkan tajinya sebagai negara pengekspor budaya pop melalui tayangan hiburannya dan menjadi saingan berat bagi Amerika dan negara-negara Eropa. Hal ini sejalan dengan kemajuan industri hiburan Korea dan kestabilan ekonomi mereka.

Contoh nyata hegemoni budaya pop Korea adalah bergesernya penilaian selera mengenai pria idaman. Sebelum masuknya budaya pop Korea di Indonesia, masyarakat kita mengacu pada aktor Hollywood yang macho. Namun, setelah masyarakat mulai menggandrungi tayangan Korea baik itu film, sinetron, maupun musik, mereka cenderung beralih menyukai pria dengan gaya cute, imut, putih dan tinggi ala aktor Korea. Belum lagi pakaian ataupun produk – produk yang digunakan artis Korea. Para artis Korea kini menjadi ikon dan seolah semua yang digunakan ataupun dilakukan mereka ditiru oleh penggemar budaya pop Korea.

Globalisasi budaya pop ini berhasil mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia.
Hegemoni budaya yang berkembang di Indonesia sebenarnya sudah sangat meresahkan, terutama mengenai pola hidup remaja Indonesia saat ini, dimana ketika hegemoni budaya barat diberi label modern, maka di sanalah jutaan anak muda negeri mengikut. Terdapat istilah generasi MTV, generasi yang berpikir, berperilaku, dan berbusana meniru system budaya yang dipraktikan budaya barat. Bila remaja saat ini tidak menonton MTV maka kita akan dianggap norak, kampungan, dan tidak modern. Satu pemaknaan yang salah kaprah.

 “Tren” pastinya ada karena sebuah  kebutuhan. Komunikasi visual pun tercipta sebagai ujung tombak kapitalis untuk menciptakan rasa “aku harus beli”. Bagi Millen Kundera ini di sebut Imalogy, sebuah pencitraan; cantik itu harus berkulit putih (pucat) seperti perempuan barat umumnya, rambut bagus harus brunette, dan mata yang menggoda haruslah berwarna biru atau hijau. Remaja Indonesia pun berlomba untuk mencitrakan dirinya sendiri dengan mengkopi perempuan-perempuan barat. Selain itu, di bidang ekonomi juga terjadi hegemoni di mana banyak bertebaran restoran-restoran ala barat seperti McDonald, Kentucky Fried Chiken, Wendys, dan lain-lain. Masyarakat sekarang ini bila tidak makan di McD atau minum Coca Cola maka kita akan menjadi orang yang kampungan. 

Contoh hegemoni di Indonesia yang dilatarbelakangi media adalah penayangan Sinetron Si Doel anak Betawi. Dalam sinetron tersebut menayangkan bahwa budaya, karakteristik, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi secara umum. Walaupun dalam seinetron tersebut terdapat karakter yang berasal dari budaya lain (Jawa, china) tetapi peranannya kurang dan masih dalam konsep Suku-suku atau budaya yang berasal dari Jawa. Secara tak langsung sinetron ini mempengaruhi karakter penontonnya yang berasal dari budaya lain (non betawi) untuk berperilaku (ucapan, karakter) seperti Si doel dan karakter lain.

Hal ini akan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari dan menimbulkan factor-faktor negatif dalam masyarakat, terutama munculnya disorientasi dan dislokasi. Disorientasi adalah proses kebingungan masyarakat karena kehilangan orientasi dalam kehidupan yang makin kompleks. Masyarakat kesulitan untuk mengambil keputusan atau menentukan pilihan dari tawaran yang makin banyak dan beragam, dari barang, jenis pekerjaan sampai gaya hidup. Sedangkan dislokasi adalah kondisi dimana setiap orang tidak tahu berada pada posisi dimana karena kompleksnya mikrokultur yang lahir karena gaya hidup global yang cepat menular. Dalam kondisi seperti itu, makin banyak warga masyarakat global yang semakin terpinggirkan oleh gegap gempita kehidupan yang kompetitif, teralienasinya individu dari masyarakatnya, terjadinya krisis identitas di segala lapisan.

Dapat dilihat saat ini bahwa hegemoni budaya barat telah akrab dengan masyarakat Indonesia dan dengan sadar telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, cara berpikir, selera musik dan lainnya. Dari segi penggunaan bahasa juga, bahasa Inggris merupkan salah satu bahasa internasional yang harus dikuasai oleh setiap orang. Bahasa Inggris juga merupakan syarat utama dalam lowongan pekerjaan. Secara tidak langsung Bahasa Inggris mendominasi serta memaksa kita untuk mempelajari Bahasa inggris.

4.                  Peranan Media Massa Terhadap Hegemoni Budaya

Kekuatan dominasi budaya yang disebarkan melalui media massa dan pengaruh kuat promosi media massa, mampu menciptakan kondisi masyarakat yang seragam (cultural homogenization). Budaya utama tersebut dihembuskan oleh kekuatan modal dan teknologi, kemampuan sumber daya manusia dan jaringan telakomunikasi  dan tanpa terasa telah diterima secara sukarela sebagai sebuah kebutuhan.

Sebagai institusi, media tak luput dari lima filtrasi seperti yang dikatakan oleh Chomsky (1988). Lima filtrasi tersebut antara lain adalah: kepemilikan, periklanan, narasumber media, flak, dan antikomunisme (Latiefah, 2010, hlm. l4). 

Media massa dalam hal ini merupakan media yang sangat mendukung berkembangnya hegemoni budaya. Kemampuan teknologi dan kemapanan media jurnalistik dan komunikasi berperan dalam menyebarkan budaya-budaya popular sehingga menjadi budaya global. 

Media massa khususnya televisi pada gilirannya akan diposisikan menjadi agen kebudayaan dari kelas dominan yang ada dalam kehidupan. Realitas yang disajikan medium televisi bukanlah realitas yang sebenarnya, tetapi realitas yang telah melalui proses “seleksi”. Seleksi dilakukan oleh sekelompok orang – jurnalis- , pekerja di rumah produksi, produser, sutradara, hingga pemilik yang yang memiliki sistem nilai dan ideologi tertentu. Hal inilah yang menyebabkan televisi menjadi tidak bebas nilai. Dapat kita lihat sekarang ini dimana yang berkuasa adalah industri maju, maka televisi akan menjadi agen sistem nilai, ideologi, dan aparat hegemoni kesadaran. 

5.                  Menciptakan Budaya tanding Terhadap Hegemoni Budaya

            Dominasi budaya yang dilakukan melalui media massa pada akhirnya mulai disadari sebagai bentuk imperialisme budaya baru. Bentuk imperialisme modern ini tidak lagi dilakukan dengan pesawat terbang, meriam, peluru dan pasukan, tetapi dilakukan oleh media massa.

            Ideologi yang disebarluaskan, tidak dipaksakan oleh penguasa, tetapi merupakan pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar dan dapat meresap, serta berperan dalam mengintepretasikan pengalaman. Proses ini berlangsung secara tersembunyi, tetapi berlangsung terus menerus.

          Melihat kecenderungan demikian, maka hendaknya, dapat dialkukan diantaranya dengan reformasi di bidang media massa seperti melakukan deregulasi terhadap undang-undang pers, sesuai dengan kenyataan sosial budaya Indonesia, terutama dalam memperkokoh semangat kebangsaan. Selain itu, kebijakan Negara terhadap media massa bukan untuk mengendalikan arus informasi dari rakyat untuk rakyat tetapi bagaimana memberikan porsi yang cukup terhadap produk mental lokal.

            Dalam kondisi seperti ini pula, kajian komunikasi antarbudaya menawarkan kesadaran pentingnya keterbukaan setiap bangsa untuk mengerti, memahami dan bersikap kritis guna mengantisipasi efek budaya mainstream terhadap budaya sendiri. Sikap arif dan bijaksana, yakni perlunya mengakrabi secara kritis akibat dampak yang ditimbulkannya dan bukan untuk menghindari secara mebabi buda karena budaya asing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar